selamat datang

disini tempatnya artikel seru
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

whwn a heart touching with the feeling


WHEN
  A HEART
             TOCHING
                         WITH
                                      THE
     FEELING
( SAAT HATI BERSEENTUHAN DENGAN PERASAAN )


KARYA
MUHAMMAD AR-RANEX MALIKUL MUBIN

DOA SUCI (1&2)



DOA SUCI
(1)




Allah Tuhanku…Tuhan segala Tuhan
Dengan kebanggan seorang hamba
Aku ingin melantunkan doa
Bagi kekasihku,wanita yang mulia
Penyandang martabat lurus
Yang juga berjalan dijalan-Mu…Allah…

            Sesudah Engkau dan Nabi-Mu
            Dialah wanita pertama
            Yang kucintai sepenuh hayat
            Yang kuhormati…yang kukagumi…yang kupercayai..

Dialah yayahku…
Dia mata air…akulah sungainya
Yang mengalirkan cinta lestari
Dialah pohon…dan aku rantingnya
Yang membuahkan bunga-bunga impian
Dia matahari…aku sekedar sinarnya
Yang memancarkan citra keindahan

            Biarkan rasa ini bersih tak tercemar
            Salurkan cinta yang jernih tak bernoda
            Biarkan pula ranting tetap subur
            Buahkan amal bakti sedap manis
            Dan sinar inipun tetaplah cerlang
            Pantulkan martabat cinta sejati

Allah…Tuhan jagad raya
Hadirkan yayahku dalam doa-doaku
Bawalah ia pada surga-Mu…Allah
Jadikan ia kebangganku
Dan oleh bidadari hidupnya sejati hakiki
Jadilah kecintaan roh nan suci
Kun fayakun

            Engkau tahu Allah…Tuhanku…
            Aku mencintai yayah,dan ingin ia bahagia
            Serta bangga karena aku
            Maka akupun berdoa penuh ikhlas
            Biarkan aku dan yayah nikmati cinta-Mu juga


Bantulah aku yang menderita
Di tindih beban perasaan kurusetra
Dihantui kecemasan akan rasanya
Terpukul karena penantian tak usai
Dan dicemooh karena dianggap gagal

            Kuatkan aku…Tuhan yang Satu
            Seperti Engkau menguatkan Muhammad
            Di puncak kepayahan menyandang derita
            Teguhkan pula iman kepercayaanku

Seperti Kau teguhkan para rosul
Dan akhirnya…hiburlah aku selalu
Seperti Kau hibur Muhammad dengan kemenangan
Amin….




(2)


Muhammad…
Suami aisyah dan khadijah…Nabiku
Kau tahu persis bagaimana penampilanku
Sebagai seorang lelaki mendamba cinta
Dalam pertautan dua hati yang sederhana

            Tidak seperti yusuf,Nabi raja mesir
            Aku amat sering melalaikan tugasku
            Dan melemparkan banyak tanggung-jawab
            Yang semestinya harus kupikul

Ganti sebagai pria yang mengayomi
Aku sering berlagak bak seorang raja
Suka memerintah,enggan mendengar
Lebih suka dilayani daripada melayani

            Sebagai pria aku menuntut seorang wanita
            Tapi kaupun tahu hai Muhammadku setia
            Betapa bodoh aku dalam jentera cinta
            Dan aku tak berdaya dihadapanya

Ajarilah aku bagaimana harus bertingkah
Sebagai seorang lelaki ikhlas dan jujur
Sebagai seorang kekasih berhati setia
Dan sebagai seorang sahabat patut dipercayai

Tunjukkanlah aku jalan dan cara yang benar
Dalam membina bahtera cinta
Dalam mengemudi kendaraan kasih saying
Bersama yayah putrid dambaanku

            Jangan biarkan aku larut tenggelam
            Dalam angan-angan hampa tentang
            Dalam suratan nasib masa depan
            Serta ridhoi aku dalam cintaku kepadanya

Semoga berkah doa-doaku terkanjang
Aku hanya meladeni kau Muhammad, Nabiku
Yang selalu setia mengayomi umatmu
Yang selalu pula menyayangi umatmu

            Agar disaat aku tiba, pengikutmu dating
            Aku didapati-Nya setia menjaga
            Dan senantiasa siaga menjalani firman-Nya
            Dalam diriku yang penuh cinta
            Amin…

SIRAT HATI


Tahun-tahun berlalu memberikan kekecewaan yang bertubi-tubi tiada henti terhadap diri ini…entah dimana keberadaan dari setitik asa yang bisa ku gapai untuk memperbaiki semua keterpurukan ini…aku tak butuh materi…apalagi kedudukan…aku hanya butuh kebebasan yang hakiki hingga jiwaku dapat denga tenang mencipta dan berkreasi …aku hanya tak ingin jiwaku terus terisolasi seperti ini karena mimpi-mimpi yang belum jadi…aku ingin bebas dan berlepas diri dari baying-bayang ilusi yang hanya membuatku tambah sakit hati…

Jiwaku meraung…hatiku merintih dan otakku ter belenggu akibat semua usaha yang terbengkalai dan tak kunjung terselesaikan…kepastian seolah-olah tak terjamah bagi hati yang menjamak ini…lelah sudah rasanya aku memendam muak atas segala ketidak tuntasan segala tujuan urusanku ini…ada yang tidak beres dengan semua ketidak jelasan ini sehingga tak kutemukan celah bagi segala yang aku harapkan…tapi semakin aku mencari…semakin tak kutemukan semua jawabanya…

Apa sebenarnya yang kurang dariku…rasanya sudah sebaik mungkin semua ku kerjakan…kurang maksimalkah takaran pengorbananku untuk meraih segala tujuanku itu…bukan…rasanya bukan itu…tapi ada suatu misteri yang menggamang dan tersembunyi dengan segelintir tabir rahasia yang menyelimutinya…tapi apa itu…aku tak tahu…

Tapi biar bagaimanapun…aku tetap yakin…kebebasan mutlak untuk memilih sendiri jalan kehidupanku itu adalah haqku..tak ada seorangpun yang berhak merampasnya dariku…karna aku percaya bahwa”setiap 1 jiwa manusia pasti bisa untuk mengetarkan dunia”…siapapun punya kesempatan yang sama…tak terkecuali…ini adalah prinsipku…apapun yang menghadang jalanku…pasti akan ku bantai…apapun yang akan terjadi aku tidak akan pernah bertekuk-lutut, apalgi menyerah…inilah aku…tanpa ragu…tanpa kepura-puraan.,.tanpa takut…tanpa cermin dan tanpa topeng…inilah aku…aku mungkin bukan manusia sempurna…tapi dengan segenap kemampuanku aku pasti bias menggetarkan dunia dengan karya-karyaku…aku bersaksi pada diriku sendiri…hal itu pasti terjadi…dan pasti kudapati…

DULU, KINI, DAN NANTI


Dulu….ada cinta bersemi indah didasar sanubari ini…kebahagiaan yang terberi diantara dua hati yang saling mengasihi…dulu…hari-hari penuh canda dantawa ceria menghiasi hati…dalam sekapan sang kekasih…dimahkotai cinta suci…dihiasi perhatian dan kasih saying…serta dimaterai janji yang mau tak mau harus teringkari…tatkala dua hati yang berbeda mengeluarkan cakar dan taringnya sehingga menyisakan luka dihati dua insane…tatkala perbedaan tak lagi bias di tolerir dan meluluh-lantahkan serta memporandakan dinding kasih saying…semua itu terjadi sekejap saja…terjabar lewat kemesraan,kerinduan dan perpisahan…

            Kini…hati ini sendiri melawan sepi…bertarung dalam pergulatan rasa cinta dan benci…mencoba lagi membangun kisra agung diatas tahta dzat jiwa dan menyemai benih cinta dikebun perasaan…kutanam ia hingga ia tumbuh dan kembali mekar bersemi karma disirami madu kasih mempelai…disinari cahaya bening dari binary mata sang kekasih…akan ku jaga hingga ia berbunga dan membuahkan cinta yang suci,murni,nir dosa…demi kedamaian dua hati…demi masa depan menanti…demi kebahagiaan sejati yang belum terpenuhi…kuserahkan seonggok cinta untuk memaklumi hari-hari sakit hati yang terdapati kemarin, dan kemarin, dan kemarinya lagi…

            Nanti…aku tak tau apa yang akan terjadi nanti…aku tak berani menduga-duga…apalagi mewartakan hari esok…karena sebagian prasangka itu dosa…aku tak kuasa mendahului yang Maha Tahu…karma itu…aku tak mau berjanji padamu kasih…aku hanya ingin kepercayaan…simpan cerita masa-laluku…jalani saja apa yang telah kita jalani apa-adanya mengikuti alur-Nya…jangan pertanyakan hari esok…hari esok siapa yang tahu…berharaplah…sebagaimana aku berharap hari yang cerah akan menanti kita untuk menyongsong puncak kebahagiaan sejati yang selama ini ku kejar, kunanti dan pasti akan kuraih…can you just yakiniku…

SADARI DIRI


Didalam sebuah sebuah planet diantara ribuan galaxy dan bintang-bintang…aku termaktub didalamnya lantaran terlahir dari rahim seorang makhluk yang lazim disebut manusia…

            Ak,u adalah tahanan yang mencoba terbebas dari jeratan hokum alam yang memvonisku dalam takdir…yang mengikatku dengan jeratan nasib yang mungkin tak dapat berubah selama umur kehidupanku…aku adalah seorang pencari yang mencari kebenaran yang terselubungi kedengkian dan kenikmatan…betapa tipis perbedaan antara kebenaran dan kesalahan…

            Aku bertanya pada sungai…kenapa ia butek dan keruh…? Iapun menjawab : “saudaramu semakhluklah yang menyebabkan aku begini…dengan seenaknya mereka membuang sampah ke mukaku…mengaliri limbah yang mencemari keturunanku dan mereka menyalahkan aku tatkala mereka terserang penyakit…yang sesungguhnya disebabkan oleh ulah mereka sendiri…”

            Lalu aku bertanya pada angina…kenapa ia menyesakkan dadaku ketika kuhirup…? Iapun menjawab : “ini semua akibat keserakahan dan perbuatan bansamu sendiri …mereka yang mengotoriku dengan asap-asap dari pabrik-pabriknya yang menjulang serta mengkontaminasi aku dengan asap-asap knalpot kendaraan yang tak terhitung lagi jumlahnya…belum lagi radiasi nuklir yang diciptakan bansamu…yang membuatku beracun dan dapat membunuh mereka sendiri…” akupun terdiam mendapat dua jawaban yang begitu menyayat di ruang batinku…

            Betapa bodohnya manusia…mereka menghancurkan sendiri tempat perpijakan mereka dengan berbagai ulah mereka sendiri…nista sekali perbuatan mereka…mereka merusak apa yang sungguh sangat mereka butuhkan…

            Akupun kemudian bertanya pada sang mentari…mengapa teriknya menusuk sangat diubun-ubunku…? Diapun menjawab: “semua ini semata-mata akibat perbuatan kalian sendiri…asap-asap pokusi dan gedung-gedung tinggi dengan kaca seluruhnya menyebabkan pantulan sinarku kembali dan menipiskan lapisan ozon…sehingga sinarku hamper-hampir tak tersaring lagi…”

            Sungguh…semua ini salah kita sendiri…teknologi dan kemajuan industri mengakibatkan kerusakan alam…mekanisme jagad raya semakin tak terkontrol dan tak teratur…sungguh...hari yang dijanjikan itu semakin dekat nasabnya…bumi ini sudah renta dan hamper mendekati ajalnya…demi dzat yang jiwa semua makhluk ada dalam genggama-Nya…bekali dirimu,diriku dan kita semua untuk pulang kepada-Nya…

            Jangan lagi membuat kerusakan…hentikan…tidakkah kalian melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang membuat kerusakan…tidakkah kalian sadar betapa sia-sianya apa yang telah kalian usahakan dan betapa penyesalan itu tak lagi ada artinya dihadapan sang Maha Segala ketika segala kebenaran tersibak dengan sangat nyata tanpa hijab…
#

SABDA HATI


Di kejauhan aku melihat sikaya bersuka ria bersama keluarganya turun dari mobil mewahnya memasuki sebuah restoran yang juga mewah…yang mungkin sebulan gajiku takkan cukup untuk membayar makanan ditempat itu…mereka nampak sangat bahagia menikmati santapan dihadapan mereka…

            Sementara didepan restoran itu nampak seorang bocah dekil nampak sangat kelaparan memandangi mereka dari balik kaca…begitu jauh batas kaca baginya laksana hamparan samudera yang tak mungkin tersebrangi…dan sejurus kemudian mereka mengusir bocah dekil itu laksana lalat yang mengganggu kesenangan mereka…

            Aku menggelengkan kepala kemudian membatin…begitu congkak dan sombongnya sikaya itu…hati mereka telah membatu sehingga tak ada lagi rasa belas kasihan…sungguh, andai mereka tahu bahwa kekayaan dan kesombongan mereka itu tak berguna dihadapan sang penguasa alam semesta…mereka pasti tidak banyak bersenda-gurau dan lebih banyak menangis…mereka tak sadar bila nafas telah dekat dikerongkongan dan sang penghancur kelezatan tiba, harta mereka takkan ada artinya…pun tak bias menyogok malaikat maut itu…pun tak bias membeki surga dang penguasa kehidupannya…

            Hei kau yang terpedaya kehidupan dunia yang hanya sementara…puaskanlah dirimu dengan harta bendamu…bersuka-rialah sepuas hatimu walau diatas penderitaan sesamamu…kau mungkin bias membeli segalanya dan membangun gedung-gedung tinggi menjulang diatas kefanaan ini…tapi ingat…kematian pasti menjemputmu walau umurmu sepanjang nabi nuh…dan saat kematian itu dating, sedang engkau dalam keadaan lalai…maka rasakanlah apa yang akan kau dapatkan dari sang penciptamu…itulah saat dimana penyesalan tak lagi berarti…itulah saat pengadilan yang teradil…itulah saat bibir terbelenggu dan semua kebohongan terbongkar…sadarlah wahai manusia…sebelum semua penyesalanmu sia-sia…sebelum kematian memisahkan ruhmu dari ragamu dan alam keabadian memberimu kepedihan yang kekal lagi terus-menerus tiada habisnya…itukah yang kau mau…?

PINTAKU


Di depertiga malam aku bersujud
Memohon ke hadirat sang Maha Wujud
Mengadu hati yang penuh dosa
Sebelum sakaratul maut tiba

            Ada kesah berjibaku direlung jiwa
            Desah hati yang kian merana
            Dihujam seribu tanda Tanya
            Tanpa jawaban pernah ada

Kularungkan airmata penyesalan
Seiring waktu terus berjalan
Pahit getir yang telah kutelan
Cukuplah sudah berkelindan

            Allah…
            Sudahi deritaku
            Izinkan kucicipi berkah-Mu
            Berikan aku sedikit inayah-Mu
            Atau cabut saja nyawaku
            Itu lebih manis bagiku
            Ketimbang aku diresah ragu
            Dan menunggu tanpa batas waktu

Jiwaku ada dalam genggaman-Mu
Hidupku tlah dimaterai takdir-Mu
Kemauanku Kau pasti tahu
Wujudkanlah…hanya itu pintaku…

KETIKA JIWA MERONTA


Oh kehidupan…kenapa kau siksa manusia yang begitu kecil dialammu yang begitu luas dengan pelbagai problematika…kenapa kau ombang-ambing hati mereka dengan angina kegelisahan…kenapa kau lempar mereka kedalam jurang-jurang kehampaan yang sunyi-senyap,gelap dan sepi…? Kenapa kau cuek dengan ratap tangis dan airmata mereka yang di rundung galau dan kerinduan…

            Tidakkah kau iba melihat sebuah hati yang merana diujung keputus-asaan dalam menghadapi sebuah perjalanan didalam perputaran hari-harimu tanpa kepastian…dia yang sendiri tanpa ada seorangpun yang mempedulikannya…tidakkah kau sedih mendengar jeritan hatinya yang penuh kepiluan karma sendiri dan terasing tanpa kawan dan juga kekasih…tanpa harta tuk membeli mimpi yang telah menjadi janji hati bermateraikan darah dan air mata…

            Inilah aku…ini aku kehidupan…! Tolong aku…ruhku telah lelah menyeret tubuh yang tak kalah letihnya ini…langkahku sudah semakin tua didalam pencarian dan syaraf-syaraf otakku sudah hamper konslet dan diambang kegilaan…hanya keabadian saja yang belum menyeruku…semua pertanyaan butuh jawaban wahai kehidupan…jawab aku…apa bukan hak ku mengecup damai cinta bersama sang kekasih…mempelaiku…? Pelayaran ini butuh tambatan…Bantu aku untuk menemukan pelabuhan cita-citaku…pengembaraan inipun harus ada akhirnya…papah aku untuk keluar dari gurun yang hanya memberi kepedihan…tuntun aku pulang…basuh jiwaku yang kering-kerontang karma dahaga dengan kesejukanmu…sembuhkan luka hatiku yang semakin berdarah-darah akibat hinaan,cercaan, dan makian orang-orang yang menganggapku orang asing dinegri tanah kelahirangu sendiri…dan,sungguh kehidupan…sungguh…kisahku butuh ending…ini bukan sandiwara perkisahan…ini bukan acting…ini benar-benar kenyataan yang harus kujelajahi…tolong aku untuk mendapatkan ending yang bahagia hingga mata ini terpejam dan ruhku pulang kealam keabadian untuk meninggalkanmu…oh kehidupan…andai saja kau tidak dijodohkan dengan kematian….

THB SUNSET


Senja ini langit cerah menatapku dengan kesedihan…seakan-akan dia tau berjuta kesah yang bergemuruh disudut sanubariku ini…segerombolan burung gereja bercanda dan bertengger di kabel listrik yang bergekantungan…mereka mencoba menghiburku…orang-orang berlalu-lalang dihadapanku dengansegala aktivitas hariannya…didepan sebuah ruko yang menawarkan kecantikan,goresan tinta ini tertuang…

            Wahai sang alam…ajarkan aku bagaimana mempuisikanmu…wahai burung-burung…ajari aku bagaimana mendendangkan iramamu…wahai malaikat-malaikat surga…terangi aku dengan Nurmu dan usir setan-setan yang memahkotai jiwa ini dengan segala dosa yang kian membiak…wahai hati…tegarlah…sabarlah dengan segala kemumetan dan kejamnya kehidupan di muka dunia ini…teruslah tegak melawan kesombongan dan keangkuhan zaman…tetap percaya pada apa yang kau percayai…yakin dengan apa yang kau yakini…topang aku…sokong aku untuk merengkuh puncak dunia didalam genggamanku…leburlah jiwa,raga,dan hatiku…tundukkan keangkuhan zaman dengan kekuatan itu…

            Hai mentari…keluarlah…jangan bersembunyi dibalik awan seperti seorang pengecut…basuh aku dengan sinarmu…jangan biarkan awan-awan gelap menudungimu…temani aku sebelum kau pulang ke pangkuan malam…temani aku yang sedang dipermainkan oleh perputaranmu…aku tak sanggup menanggung semua gulana ini sendirian…dengarlah keluh-kesah yang bergumul di dalam hati ini…

            Wahai sang penguasa kehidupan…hadirkan kepuasan untukku senyampang keabadian belum menjemputku…aku adalah ciptaan-Mu juga yang pantas Kau beri pertolongan…walau terkadang aku berlari menjauhi-Mu dan terkadang menentang kehendak-Mu…








KATA-KATA DARI KEDALAMAN BATIN


Musim kemarau telah menggugurkan helai-helai daun yang mulai mengering karena putus asa dan tak kuasa menahan terik tanpa harapan untuk mendapatkan setitik air hujan yang sekiranya bisa sedikit menyejukkanya…mataku sembab menatap gugurnya dayn-daun itu menimpa tanah…aku terkesima menatap prosesi kematian yang begitu tragis buatku itu…

            Bunga-bunga ditamanpun mulai layu…ia tak lagi kuasa memancarkan pesona keindahan melalui kelopaknya…bagai orang yang putus asa menundukkan kepalanya…begitu pula keadaanya…tak berdaya dipagut siang yang begitu panas menyengat…hingga memancarkan peluh disekujur tubuh ini…akupun bergumam…nasib bunga itu sebentar lagi rasanya akan sama dengan nasib daun itu…

            Aku duduk terpekur di bawah sebuah pohon besar yang rindang…yang masih dapat berdiri walau panas mentari menikamnya…aku merenung…ada sesuatu yang hilang dari diriku…tapi aku tak tau apa yang hilang itu…ah, aneh…apa yang kurasakan ini…? Aku terdiam  mananti sore hari yang terasa lama sekali datang…lagi-lagi sesuatu menggelitik diruang batinku…sesuatu yang benar-benar tak kupahami…aku bermeditasi mencoba menyibak tabir rahasia yang melanda ruang batinku…ku salami kedalaman jiwaku sendiri…semakin dalamdan semakin dalam kujelajahi setiap ruang batinku…tapi tak juga ku temukan sesuatu yang mengusik itu…

            Dan tiba-tiba terdengar suara yang entah berasal darimana terngiang-ngiang di telingaku…semakin lama semakin jelas suara seruan itu…”hei…apa yang kau lakukan disitu…kau telah banyak menyiakan waktumu…bangkitlah kau…bukan saatnya bagimu untuk bersantai ria disitu…apa kau telah melupakan tujuanmu…bangkitlah…sebab waktu tak akan pernah menunggumu untuk bergerak”…kontan aku terperanjat dari semediku…dan mataku terbelalak…ternyata aku sedang  didikte oleh diriku sendiri…betapa bodohnya aku…

            Dan memang benar kata-kata itu…bukan saatnya aku berleha-leha disini…banyak yang harus aku benahi untuk mencapai semua tujuan hidupku…sudah terlalu lama aku terbuai…sudah tiba saatnya aku terjaga dan kembali menapaki jejak takdirku mencari apa yang selama ini belum kudapatkan…akan kuraih puncak dunia didalam genggaman tanganku…inilah janji hati yang selama ini telah terpatri dan memang harus segera aku tunaikan.

            Tapi semua memang tak semudah yang aku perkirakan…persangkaanku ternyata dimentahkan oleh kenyataan pahit yang mengiringi setiap langkah kakiku…lagi-lagi aku terjatuh dan terjatuh dijebak permainan masa…pengorbananku terasa sia-sia…kepastian macam apa yang sedang kutunggu ini..benar-benar menguras tenaga dan energiku…kesabarankupun hamper pudar diujung kebuntuan otakku…apalagi yang yang harus kulakukan…rasanya semua sudah maksimal ku jalani…atau memang harus seperti ini jalur yang harus aku jalani…ditandai seribu penderitaan demi satu kebahagiaan sejati…haruskah dibayar dengan sejuta kepedihan demi secarik kepuasan…sebegini sulitkah konsekuensi yang harus aku hadapi…sehingga keringananpun tak boleh aku minta…

            Jika memang demikian adanya…aku akan menerimanya…karma jalan ini yang telah aku tetapkan atas diriku…apapun yang akan menerpaku akan kuhadapi dengan ketabahan…apapun yang akan menerpaku akan kuhadapi dengan ketabahan…apapun yang akan menjegalku akan kulawan dengan keyakinan…hingga jika saat itu tiba untukku…akan kujemput dengan indah dan aku reguk nikmatnya dengan segenap suka cita…karma aku yakin apa yang aku inginkan tidak melampaui batas kemampuanku…jadi sudah sepatutnyalah aku dapatkan apa yang aku inginkan…karma apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi…dan apapun yang kita tanam itulah yang akan kita petik…ini adalah hokum kuno…tapi ia akan tetap berlaku disetiap zaman dan masa…di setiap diri tanpa kecuali…

#

DOA HATI YANG MENANTI


Perjumpaan diantara aku dan dia                                                                 
Memberi kesan dal;am palung jiwa
Bembersit rinyai rinduku hampa
Ketika dirimu menghilang tanpa kata

            Hari-hari terlewati tanpa arti
            Putus asa hampiri diri ini
            Memikirkanmu tiada henti
            Siang dan malam aku menanti

Tuhan…
Bila ia pilihan-MU bagiku
Demi kebanggan seorang hamba
Aku meminta
Pertemukan lagi aku dengannya
Karma KAU Maha Tahu akan rasaku

            Di sepertiga malam aku bersujud
            Hanya memohon obat kesahku
            Pada siapa lagi aku mengadu
            Selain pada dirimu sang Maha Segala
            Niscayakan inginku
            Wujudkanlah pintaku
            Dan kabulkanlah doaku

Padamu kutitipkan rindu ini
Sampaikanlah pada hatinya
Getarkan jiwanya dengan cintaku
Alirkan pada hatinya rasa sayangku

            Aku pasrahkan semua pada-MU
            Aku hanya makhluk-MU yang lemah
            Yang kupunya hanya kesabaran
            Aku akan terus yakinkan diri
            Walau harus menunggu tanpa batas waktu
            Aku terima dan terus berharap
            Tanpa cemas….tanpa ragu
            KAU pasti menolongku
Allah…
Pada diri yang satu ini
KAU tahu aku belum pernah
Memohon seperti ini
KAU-pun pasti tahu…Allah
Apa yang berjibaku dihatiku
Yang nampak maupun yang tersembunyi
Rasa ini bemberian-MU juga
Cinta ini anugerah-MU juga
Sekali lagi aku meminta kalimat sakti-MU
“Kun fayakun”
Untuk aku dan dia

            Aku sang pecinta…Dia sang kekasih
            Demi keagungan rasa ini
            Aku mendambanya
            Untuk kebahagiaan sejati
            Yang pasti akan ku raih
            Dan ingin kupersembahkan hanya untuknya

Secarik doa terlantun sudah
Sebait kata tersusun sudah
Kata-kata pengharapan
Kata-kata penantian
Pencarian ini tak terbatas waktu
Dia yang telah menggetarkan hatiku
Dia yang menumbuhkan cinta ini
Dialah wanita yang aku cari
Untuk menemani arti jejak langkah hidupku

            Allah…Tuhan segala Tuhan
            Hiburlah aku seperti KAU hibur Muhammad
            Dengan khadijah dan aisyah
            Karma rasa cinta ini pemberian-MU juga
            Salahkah jika aku meminta…?

Allah…Tuhan Jagad raya semesta alam
Simpuh ini pengharapanku padamu
Uluran tangan ini kepasrahanku
Air mata ini kejujuran hatiku
Jangan biarkan aku dibimbang ragu
Dengan harapan yang kian semu
Diujung rindu
Yang kian menggebu

            Allah…KAU penciptaku
            KAU penulis takdirku
            Haq-MU penuh atas diriku
            Pada siapa lagi aku mengadu
            Jika bukan kepada-MU
            Aku hanya serpihan debu
            Yang KAU buat jadi makhluk-MU
            Tolong aku…bantu aku
            Kasihanilah aku hamba-MU
            Yang bergumul dengan pilu
harapkan keajaiban-MU
            datang untukku                                             

BALKON RUKO



Di sebuah ruang kecil didalam luasnya bentangan jagad raya semesta alam aku menyambut sang pembawa sinar bersama butiran-butiran embun kesejukan yang membasuh raut mukaku yang pucat setelah terjaga dari lelap untuk menyambut kembali hadirnya hari yang mungkin akan terlewati tangpa arti.

Wahai pagi…aku kecup pucuk-pucuk kehampaanmu dalam gelagah kesendirianku…kuhirup udara sejukmu bertangkai kerinduan hatiku yang mendamba terwujudnya janji hati…saksikan ketabahanku merangkai keping-keping penderitaan yang tak kunjung usai demi setitik kepuasan yang membawaku ke mahligai kebahagiaan…kujual separuh rasa mudaku untuk keyakinanku…kugadaikan segala hasratku demi meniscayakan impian itu…kuasinkan jiwaku kedalam nuansa kefanaan…walau kusadari keabadian-Mu lebih manis dari segala kesentaraan ini.

Lihat aku…saksikan bagaimana bahtera kehidupan mengombang-ambingku…menyesatkanku dan menghempaskanku kedalam jurang-jurang kesunyian yang gelap dan sepi…aku sendiri membangun puing-puing imanku yang telah runtuh akibat dosa kian berjenis…sendiri kujelajahi tranformasi pendewasaan yang berikan berjuta kemungkinan untuk kupilih…entah sampai kapan aku harus mengejawantah didalam kefatamorganaan ini…tidak ada yang nyata dihadapanku…semua samara-samar…sedikit asa membersit rinyai menopang kepayahan yang hampir memadamkan kobaran api semangat di jiwaku…kujilati getirnya kisi-kisi pengorbanan bersama peluh-peluh keletihan…ada lembaran-lembaran damai diceritaku tapi semua itu tak sebandinggengan penderitaan beratus-ratus helai jumlahnya…aku tak mau mengeluh…karma kutau semua hanya akan sia-sia…kucoba kuatkan walau seribu tanda tanya tak terjawabkan…kuharus merangkai mimpi walau semua tak pasti terwujud…dalam keterpurukan kuteduhkan langkahku yang kian gontai mengiringi detik-detik penantianku yang tanpa batas waktu…

Demikianlah aku meratap demi ketidak berdayaanku…aku harap sang waktu tak lagi mempermainkanku seperti zaman memperbudak manusia dari masa ke masa diatas padang kehidupan dalam rotasi dunia yang semakin tua yang harus menanggung berat beban kehidupan yang bergulir diatasnya…

#

SENJAKALA DI CHANDRABAGA


Mentari hampir terbenam di ufuk barat…sementara semilir angina mengalunkan nada alam…pohon-pohon meliuk-liuk mengikuti iramanya…sepasang burung wallet bercanda ditengah danau buatan bermain air…bahagia sekali nuansa suasana senja itu…dihiasi langit jingga yang hampir padam oleh kegelapan malam…air danau itu memancarkan pesona kemurnianya dan bergemericik oleh ikan-ikan yang bersendawa…

            Aku duduk sendiri ditepian danau…aku lihat beberapa titik danau ditempati orang-orang yang mincing…mereka seakan lepas dari penat yang menyelubungi harinya…tanpa rasa jenuh mereka menunggu kai-kail harapanya dimakan ikan…disisi lain kulihat seorang ibu sedang menghibur bayinya yang ada dikereta dorong…aku tersenyum…sepasang muda-mudi sedang asik bermesraan diatas sepeda motor sambil menikmati indahnya suasana…mereka terhanyut nuansa alam…aku tersenyum mengingat kembali prosesi kehidupan yang telah kujelajahi sepanjang umurku…di dalam arena perputaran waktu diatas pentas kehidupan roda dunia.

            Tapi diantara semua keindahan itu ada seorang perempuan belia duduk termangu denagn sejuta lamunan…dia melempari danau dengan kerikil-kerikil…sejurus kemudian kedua tanganya menutupi wajahnya dan rintihan tangis terdengar samara-samar memecah suasana yang hangat itu…ada apa denganya…? Apa yang terjadi dengan gadis itu…? Aku membatin…mungkin cinta yang membuatnya jadi begitu…aku coba terawang alam kesedihanya…coba kugambarkan dengan kata…terlintas baying-bayang kehancuran hati menyelubunginya…sebuah luka yang teramat pedih menyayat disanubarinya…sebuah pengharapan dan penyesalan yang sia-sia…aku bergumam:…pasti gadis ini terkena racun bunga cinta yang membuat kebahagiaan berubah kesedihan…suka-cita menjadi duka-cita…dan tawa menjadi tangis…begitu hebat dan dahsyat racun itu menjalarinya…hingga ia tak mampu menahan gejolak perasaanya dan dicurahkannya lewat linangan air mata…tak lama kemudian ia menyekaair matanya…seketika ia berubah dari wajah kesedihan menjadi wajah penuh kebencian yang memancar diraut mukanya…

            Aku tersentak dan terperangah…betapa baying kegelapan yang pekat membiasinya seakan penuh dendam yang menggelora…hilang sudah kelembutanya…ia berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu dengan kemarahan memenuhi rongga dadanya…berlalu seiring mentari yang pulang kepangkuan malam…

            Langit semakin kelabu…sebentar lagi malam…akupun segera beegegas untuk meninggalkan tempat itu…sebuah tempat yang jujur memberikan gambaran-gambaran kehidupan yang melintas dialam ini…di kejauhan samara-samar terdengar suara adzan magrib yang mengiringi langkahku pulang…
#

MIDNIGHT P.P


                   Langit gelap…awan-awan hitam menggulung diangkasa…sang rembulan dan bintang-bintang terhalang untuk bersinar…tak lama hujan turun dengan deras mengguyur bumi…butiran-butiran air yang melayang itu laksana jutaan peluru yang melesat dan menhujam bumi dengan cepatnya…

                   Aku duduk termenung di teras rumah memandangi alam malam yang semakin kabur akibat tumpahnya air dari langit…pohon-pohon tinggidan besarbergoyang-goyang diterpa angin…aku merapatkan tanganku didadaku demi menahan dinginnya angin yang berhembus liar tak tentu arah…butiran-butiran kecil tampiasan air hujan menerpa wajahku…sesosok wajah yang penuh dengan gelisah yang bergemuruh dihatinya…tersirat kesah yang menghimpit belahan jiwanya…kebencian dimatanya dan seribu tanda Tanya berkelindan diantara kedua bibirnya yang gemetar…sesungguhnya banyak yang ingin diungkapkanya,tapi tak ada tempat pencurahan baginya…   

                     jegerrr …! Tiba-tiba sekelebat petir menyambar pohon kelapa tepat dihadapanku…aku tersentak dan cahaya terang itu menyilaukan mataku sejenak…sesaat kemudian tumbang bagian atas pohon kelapa itu menimpa bumi…setelah itu sepi lagi…tidak ada seorangpun yang peduli…seolah-olah mereka sedang terhanyut oleh mimpi-mimpinya…suara halilintar terus sahut-menyahut diiringi sekelebatan kilat seperti tangan yang mencengkeram bumi…dan angina semakin kencang bertiup tak beraturan…

                 Air mata menetes dipipiku…cepat-cepat aku menghapusnya…didalam hatiku bertarung antara kesedihan dan kebencian…kuambil sebatang rokok dan kuselipkan diantara kedua bibirku…lalu kubakar dan kuhisap dalam-dalam beberapa kali…asap-asap penuh tanda tanya meluncur dari mulut dan hidungku…hujan belum juga reda…malah semakin deras…petirpun semakin memburu…mendatangkan ketakutan dan kecemasan bagi setiap orang yang mendengarnya…mencekam…tiba-tiba mataku menyiratkan kemarahan…dan sejurus kemudian dari bibirnya yang bergetar aku bergumam…dengan suara penuh rasa muak.

                  Nasibmu sama denganku…hai pohon kelapa…sendiri…tak ada seorangpun yang mau tau tentang keberadaanmu…orang-orang itu terlalu sibuknya mengurus urusan mereka masing-masing…berlomba-lombauntuk sesuatu yang fana…mereka diperbudak masa dan menjadi robot-robot dalam dunia industri demi materi…hati mereka tertutup akibat kesibukan-kesibukan yang sesungguhnya tak berarti…rasa kasih mereka telah lenyap…sehingga hanya mementinkan diri sendiri tanpa peduli lagi dengan orang lain…aku sama sepertimu hai pohon kelapa…sendiri dan orang-orang tak ada yang mengerti bahasa jiwaku…

                Nasibmu…wahai pohon kelapa…sama sepertiku…sendiri…terasing…orang-orang hanya mengambil keuntungan darimu…mereka tidak memperhatikanmu…tapi dengan rakusnya mereka mengambil yang kau punya…setelah itu kau tetap sendiri…diguyur hujan…disapu angina…kau terombang-ambing dan tak ada seorangpun yang iba padamu…mereka terlena dalam kepuasan mereka…yang mereka rampas darimu…tapi kau tetap sendiri hingga akhirnya sang halilintar merenggut nyawamu…dan kaupun akan terlupakan…

                 Air mataku ini untukmu…aku yang akan mengabadikanmu lewat guratan pena ini,karma nasibmu dan nasibku tak ada bedanya…kupanjatkan doa untukmu dan aku berterima kasih padamu atas inspirasi yang telah kau berikan…sampai jumpa dialam keabadian sahabatku…selamat tinggal….

                 Hujanpun berhenti…aku bangkit untuk menuju pembaringanku yang sepi…untuk bertemu sang mimpi hingga pagi membangunkanku dari lelap dan kenyataan pahit kembali menjemputku untuk rutinitasku dalam putaran hari yang tak kunjung berhenti…
#

Selasa, 08 Maret 2011

“Empat Istri”

“Empat Istri”


(Author Unknown)
Suatu ketika ada pedangang yang kaya raya, ia memiliki empat istri yang selalu setia menemaninya.
Dia mencintai istrinya yang keempat dan menganugrahinya harta & kesenangan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik untuk istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istirinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini dan selalu memperkenalkan wanita ini kepada teman-temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri kedua, ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”
Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia terdiam,“Tentu saja tidak..“, jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? ” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”
Sahabat, sesungguhnya kita punya empat orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Sahabat, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.

BALKON RUKO

Di sebuah ruang kecil didalam luasnya bentangan jagad raya semesta alam aku menyambut sang pembawa sinar bersama butiran-butiran embun kesejukan yang membasuh raut mukaku yang pucat setelah terjaga dari lelap untuk menyambut kembali hadirnya hari yang mungkin akan terlewati tangpa arti.

Wahai pagi…aku kecup pucuk-pucuk kehampaanmu dalam gelagah kesendirianku…kuhirup udara sejukmu bertangkai kerinduan hatiku yang mendamba terwujudnya janji hati…saksikan ketabahanku merangkai keping-keping penderitaan yang tak kunjung usai demi setitik kepuasan yang membawaku ke mahligai kebahagiaan…kujual separuh rasa mudaku untuk keyakinanku…kugadaikan segala hasratku demi meniscayakan impian itu…kuasinkan jiwaku kedalam nuansa kefanaan…walau kusadari keabadian-Mu lebih manis dari segala kesentaraan ini.

Lihat aku…saksikan bagaimana bahtera kehidupan mengombang-ambingku…menyesatkanku dan menghempaskanku kedalam jurang-jurang kesunyian yang gelap dan sepi…aku sendiri membangun puing-puing imanku yang telah runtuh akibat dosa kian berjenis…sendiri kujelajahi tranformasi pendewasaan yang berikan berjuta kemungkinan untuk kupilih…entah sampai kapan aku harus mengejawantah didalam kefatamorganaan ini…tidak ada yang nyata dihadapanku…semua samara-samar…sedikit asa membersit rinyai menopang kepayahan yang hampir memadamkan kobaran api semangat di jiwaku…kujilati getirnya kisi-kisi pengorbanan bersama peluh-peluh keletihan…ada lembaran-lembaran damai diceritaku tapi semua itu tak sebandinggengan penderitaan beratus-ratus helai jumlahnya…aku tak mau mengeluh…karma kutau semua hanya akan sia-sia…kucoba kuatkan walau seribu tanda tanya tak terjawabkan…kuharus merangkai mimpi walau semua tak pasti terwujud…dalam keterpurukan kuteduhkan langkahku yang kian gontai mengiringi detik-detik penantianku yang tanpa batas waktu…

Demikianlah aku meratap demi ketidak berdayaanku…aku harap sang waktu tak lagi mempermainkanku seperti zaman memperbudak manusia dari masa ke masa diatas padang kehidupan dalam rotasi dunia yang semakin tua yang harus menanggung berat beban kehidupan yang bergulir diatasnya…

#

SENJAKALA DI CHANDRABAGA

Mentari hampir terbenam di ufuk barat…sementara semilir angina mengalunkan nada alam…pohon-pohon meliuk-liuk mengikuti iramanya…sepasang burung wallet bercanda ditengah danau buatan bermain air…bahagia sekali nuansa suasana senja itu…dihiasi langit jingga yang hampir padam oleh kegelapan malam…air danau itu memancarkan pesona kemurnianya dan bergemericik oleh ikan-ikan yang bersendawa…

            Aku duduk sendiri ditepian danau…aku lihat beberapa titik danau ditempati orang-orang yang mincing…mereka seakan lepas dari penat yang menyelubungi harinya…tanpa rasa jenuh mereka menunggu kai-kail harapanya dimakan ikan…disisi lain kulihat seorang ibu sedang menghibur bayinya yang ada dikereta dorong…aku tersenyum…sepasang muda-mudi sedang asik bermesraan diatas sepeda motor sambil menikmati indahnya suasana…mereka terhanyut nuansa alam…aku tersenyum mengingat kembali prosesi kehidupan yang telah kujelajahi sepanjang umurku…di dalam arena perputaran waktu diatas pentas kehidupan roda dunia.

            Tapi diantara semua keindahan itu ada seorang perempuan belia duduk termangu denagn sejuta lamunan…dia melempari danau dengan kerikil-kerikil…sejurus kemudian kedua tanganya menutupi wajahnya dan rintihan tangis terdengar samara-samar memecah suasana yang hangat itu…ada apa denganya…? Apa yang terjadi dengan gadis itu…? Aku membatin…mungkin cinta yang membuatnya jadi begitu…aku coba terawang alam kesedihanya…coba kugambarkan dengan kata…terlintas baying-bayang kehancuran hati menyelubunginya…sebuah luka yang teramat pedih menyayat disanubarinya…sebuah pengharapan dan penyesalan yang sia-sia…aku bergumam:…pasti gadis ini terkena racun bunga cinta yang membuat kebahagiaan berubah kesedihan…suka-cita menjadi duka-cita…dan tawa menjadi tangis…begitu hebat dan dahsyat racun itu menjalarinya…hingga ia tak mampu menahan gejolak perasaanya dan dicurahkannya lewat linangan air mata…tak lama kemudian ia menyekaair matanya…seketika ia berubah dari wajah kesedihan menjadi wajah penuh kebencian yang memancar diraut mukanya…

            Aku tersentak dan terperangah…betapa baying kegelapan yang pekat membiasinya seakan penuh dendam yang menggelora…hilang sudah kelembutanya…ia berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu dengan kemarahan memenuhi rongga dadanya…berlalu seiring mentari yang pulang kepangkuan malam…

            Langit semakin kelabu…sebentar lagi malam…akupun segera beegegas untuk meninggalkan tempat itu…sebuah tempat yang jujur memberikan gambaran-gambaran kehidupan yang melintas dialam ini…di kejauhan samara-samar terdengar suara adzan magrib yang mengiringi langkahku pulang…